Akibatnya, yang diratapi bukan hanya hubungan yang berakhir, tetapi juga masa depan yang dibayangkan bersama orang tersebut.
Faktor lain yang membuat proses pemulihan menjadi lebih berat adalah kecenderungan untuk meremehkan perasaan sendiri. Banyak orang merasa tidak berhak bersedih karena hubungan tersebut tidak pernah resmi atau berlangsung terlalu singkat.
Padahal, para ahli menilai bahwa menyangkal kesedihan justru memperpanjang proses penyembuhan.
“Menghakimi perasaan kita membuatnya makin sulit untuk memproses dan melepaskannya,” tegas Brock.
Ia menjelaskan bahwa hubungan yang singkat tetap dapat memicu kesedihan, rasa ditolak, kekecewaan, hingga kehilangan harapan terhadap masa depan yang sebelumnya diinginkan.
Karena itu, para psikolog mengingatkan bahwa rasa sedih setelah berakhirnya situationship adalah respons yang wajar. Durasi hubungan maupun status formal tidak selalu menentukan kedalaman emosi yang terlibat di dalamnya.
Pada akhirnya, yang perlu diakui bukanlah seberapa lama hubungan itu berlangsung, melainkan seberapa besar harapan, perhatian, dan perasaan yang pernah diberikan. Dengan menerima bahwa kehilangan tersebut nyata, proses pemulihan dapat berjalan lebih sehat dan lebih cepat.
