Matamira menjelaskan, penurunan NTP terjadi karena laju kenaikan Ib lebih tinggi dibandingkan It. Pada Januari 2026, It naik 0,18 persen dari 121,83 menjadi 122,05. Namun, Ib meningkat 0,52 persen, dari 120,08 menjadi 120,71.
“Artinya, pendapatan nominal petani memang meningkat, tetapi kenaikan biaya konsumsi dan produksi relatif lebih besar sehingga daya tukar petani terhadap barang dan jasa melemah,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi makro sektoral, kondisi ini mencerminkan adanya tekanan biaya (cost pressure) di tingkat rumah tangga petani. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan beberapa input produksi mempersempit surplus usaha pertanian, meskipun secara agregat NTP masih berada di atas 100.
Indeks Konsumsi Rumah Tangga Naik 0,59 Persen
Komponen terbesar penyumbang kenaikan Ib berasal dari Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) yang naik 0,59 persen, dari 120,77 menjadi 121,49. Dari 11 kelompok pengeluaran, 10 kelompok mengalami kenaikan indeks.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor utama dengan kenaikan 0,76 persen. Disusul kelompok perlengkapan rumah tangga (0,56 persen), perawatan pribadi dan jasa lainnya (0,58 persen), serta perumahan dan energi rumah tangga (0,21 persen). Sementara kelompok pendidikan tercatat stagnan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
