Kenaikan IKRT ini memperlihatkan bahwa tekanan inflasi di wilayah perdesaan masih dominan berasal dari komoditas konsumsi dasar, yang secara langsung mengurangi kapasitas riil pendapatan petani.

Disparitas Antar Subsektor

Secara sektoral, dinamika NTP menunjukkan pergerakan yang tidak seragam.

Subsektor Tanaman Pangan mengalami penurunan NTP sebesar 0,11 persen menjadi 103,55. Meskipun It naik 0,43 persen—terutama didorong kenaikan harga jagung (0,62 persen) dan gabah (0,33 persen)—Ib meningkat lebih tinggi sebesar 0,54 persen.

Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat mencatat kontraksi terdalam, dengan NTP turun 1,67 persen menjadi 95,15. Penurunan ini dipicu turunnya It sebesar 1,15 persen akibat melemahnya harga komoditas seperti pinang dan pala biji, sementara Ib tetap naik 0,53 persen.

Subsektor Peternakan juga melemah tipis 0,08 persen menjadi 105,65. Kenaikan harga sapi potong (0,84 persen) dan ternak kecil (0,24 persen) belum mampu mengimbangi kenaikan biaya konsumsi dan produksi.

Sebaliknya, dua subsektor menunjukkan penguatan signifikan. Subsektor Hortikultura naik 1,48 persen menjadi 94,08, didorong kenaikan harga sayur-sayuran sebesar 2,64 persen. Subsektor Perikanan mencatat kenaikan NTP 1,69 persen menjadi 97,81, dengan lonjakan harga di kelompok perikanan tangkap sebesar 2,47 persen.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.