Dalam rincian lebih lanjut, Nilai Tukar Nelayan (NTN) naik 2,15 persen menjadi 95,17, sementara Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) meningkat 0,47 persen menjadi 105,62.
Di tengah penurunan NTP, indikator Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) justru naik 0,20 persen menjadi 105,30 dari 105,09 pada Desember 2025. NTUP mengukur perbandingan It dengan komponen biaya produksi saja (BPPBM), sehingga lebih mencerminkan kemampuan usaha pertanian secara murni.
Kenaikan NTUP menunjukkan bahwa dari sisi produksi, sebagian petani masih mampu mempertahankan margin usaha. Subsektor perikanan mencatat kenaikan NTUP tertinggi sebesar 2,05 persen, disusul hortikultura 1,85 persen dan tanaman pangan 0,57 persen.
Fenomena divergensi antara NTP dan NTUP ini menandakan bahwa tekanan utama bukan semata-mata berasal dari biaya produksi, melainkan dari peningkatan biaya konsumsi rumah tangga.
Tantangan Struktural
Secara struktural, dinamika NTP Januari 2026 mencerminkan beberapa tantangan utama sektor pertanian NTT:
- Ketergantungan pada komoditas primer dengan volatilitas harga tinggi.
- Kenaikan harga konsumsi dasar yang berdampak langsung pada daya beli riil.
- Disparitas kinerja antar subsektor, khususnya lemahnya perkebunan rakyat.
Meski NTP masih berada di atas angka 100—yang berarti secara agregat petani masih mencatat surplus relatif—tren penurunan perlu diantisipasi melalui kebijakan stabilisasi harga, penguatan rantai pasok, dan peningkatan produktivitas.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
