Oleh: Alfonso Jano Molo
Malaka,FHC-Senja belum sepenuhnya jatuh ketika Pasar Harian Beiabuk di Betun mulai berdenyut. Lampu-lampu menyala seadanya, memantulkan cahaya kuning pucat ke meja-meja kayu yang lembap. Di tempat inilah, setiap sore, harapan dipertaruhkan—diam-diam, tanpa sorak, tanpa janji.

Pasar ini memang menjual ikan, sayur, dan kebutuhan dapur. Namun sesungguhnya, yang paling banyak diperdagangkan adalah harapan. Harapan juragan ikan agar tangkapan hari ini tak kembali pulang sia-sia. Harapan para papalele, pedagang kecil keliling yang setia menjemput rezeki dari tangan ke tangan. Harapan para ibu rumah tangga yang menggantungkan asap dapur esok pagi dari lapak-lapak sederhana itu.
Tak ada bangunan megah di sini. Tak ada lantai keramik mengilap atau pendingin ruangan. Yang ada hanyalah ketekunan orang-orang kecil yang bertahan dari hari ke hari. Lapak berdiri seadanya, penerangan minim, penataan jauh dari rapi. Namun justru di ruang yang serba terbatas inilah ekonomi Malaka menunjukkan wajah aslinya—jujur, keras, dan terus bergerak.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
