Ia mengingatkan bahwa penggunaan AI yang tidak tepat berpotensi menurunkan kualitas proses belajar apabila hanya digunakan sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan tugas akademik. Sebaliknya, teknologi tersebut harus dimanfaatkan untuk memperluas wawasan, mempercepat akses informasi, dan meningkatkan produktivitas akademik.
“AI harus menjadi alat bantu untuk memperkaya pengetahuan dan mempercepat proses belajar, bukan menggantikan kemampuan analisis dan kreativitas manusia,” katanya.
Selain penguatan kapasitas digital, Stefano Rizki Adranacus juga mendorong perluasan akses pendidikan melalui berbagai program afirmasi. Salah satunya adalah pengawalan Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bagi pelajar dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Menurut Agustinus, dalam kurun waktu lima bulan terakhir, Stefano berhasil memperjuangkan sekitar 32.000 penerima PIP di NTT. Program tersebut diarahkan untuk menjangkau kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan melalui pendekatan berbasis data dan verifikasi lapangan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
