Magdalena Eda Tukan menjelaskan bahwa perempuan di Flores Timur sesungguhnya memiliki pengetahuan ekologis yang sangat penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat. Pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui praktik pelestarian benih lokal, pengelolaan lahan pertanian tradisional, serta adaptasi terhadap perubahan iklim.
Namun di tengah meningkatnya tekanan krisis iklim, kapasitas adaptif perempuan justru terancam oleh berbagai proyek pembangunan skala besar yang berlangsung tanpa pelibatan masyarakat secara bermakna.
Menurut Eda, perempuan tidak hanya menghadapi dampak perubahan iklim, tetapi juga menghadapi risiko kehilangan ruang hidup akibat ekspansi proyek yang mengatasnamakan pembangunan maupun transisi energi. Kondisi tersebut semakin kompleks ketika masyarakat Flores Timur masih berupaya memulihkan diri dari dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki yang mengubah lanskap sosial, ekonomi, dan ekologis masyarakat setempat.
Pandangan serupa disampaikan Horiana Yolanda dari WALHI NTT. Ia menegaskan bahwa karakter geografis NTT yang terdiri atas pulau-pulau kecil, kawasan karst, savana, serta berada di wilayah cincin api dunia (Ring of Fire) menjadikan daerah ini memiliki tingkat kerentanan ekologis yang tinggi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
