“Contoh konkret misalnya dokter anastesi dokter Evi, Saya dokter umum kadang-kadang kasihan dengan Dia (dokter Evi) dia spesialis seperti ini, jadi menyangkut di rumah sakit ada UCU, ICU itu dimana-mana penanggungjawabnya adalah dokter anastesi, pada awalnya mereka masuk rumah sakit itu mereka tidak menangani ICU karena ada beberapa senior yang mengatur itu rumah sakit. “Sejujurnya Itu Problemnya”, ujarnya.
Dirinya mengutarakan ada orang-orang yang begitu diistimewahkan. Hal inilah yang membuat rumah sakit jadi Korban. Mereka pergi karena kecewa kan sudah banyak bukan baru ini, ada dokter Wiases spesialis bedah dan istrinya, lalu dokter Agus Spesialis kebidanan sekarang di Labuan Bajo.
Padahal Rekam medis itukan kita sudah punya di rumah sakit, dan Dia pergi juga karena kecewa “Kecewa karena pembagian jasa namanya merasa ya subjektif memang” dia rasa bisa salah tapi yang terpenting bisa cari tahu diakomodir sedapat mungkin.
“Terkait pembagian Jasa, Bahwa saya dirumah punya anak 2 saja yang satu pasti cemburu sebagai orang tua kan kita ingin memperlakukan anak kita seadil-adilnya. Apalagi di rumah sakit yang jumlahnya tujuh ratus orang, untuk memuaskan semua itu sebuah keniscayaan jadi tidak mungkin”, kata dia.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
