Menurut Aurum, tantangan terbesar pemuda hari ini bukan hanya soal mencari pekerjaan, melainkan bagaimana mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin yang berkarakter, beriman, dan berintegritas.
“Pemimpin tidak diukur dari jabatan atau status. Dalam keluarga pun, ketika kita mampu mengambil keputusan yang baik, itu sudah bentuk kepemimpinan. Besar kecilnya tanggung jawab harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Kalau kita menyepelekan hal kecil, bagaimana Tuhan akan mempercayakan hal yang besar?” ujarnya menekankan.
Pesan itu mengalir lembut tapi menggetarkan. Beberapa peserta tampak mencatat dengan saksama, sementara yang lain terdiam, merenungi kalimat yang seolah menyentuh sisi terdalam dari panggilan hidup mereka.
Bagi Aurum, pembangunan manusia tidak dapat dilepaskan dari peran lembaga keagamaan. Gereja dan pemerintah, katanya, adalah dua pilar utama kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang saling menopang.
“Kolaborasi antara gereja dan pemerintah bukan hubungan atasan-bawahan, tapi kemitraan yang setara untuk mencapai kesejahteraan bersama,” tegasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
