Sore menjelang petang, suasana di Oematnunu terasa hangat. Diskusi berlanjut dalam kelompok kecil, di bawah sinar matahari yang perlahan meredup. Di antara canda dan tawa, ada percikan harapan yang tumbuh di hati generasi muda GMIT.
Pekan Raya Pemuda bukan lagi sekadar agenda gerejawi. Ia menjadi gerakan moral yang menyalakan lilin kecil di tengah gelapnya tantangan zaman — lilin yang diharapkan akan menerangi Nusa Tenggara Timur dengan semangat melayani, berdaya, dan berkarya.
“Kupang akan maju jika anak mudanya berani bermimpi, belajar, dan bertindak. Dan gereja akan kuat jika pemudanya hadir bukan hanya di mimbar, tapi juga di tengah masyarakat,” ujar Aurum menutup sesi, diiringi tepuk tangan dan nyanyian syukur bersama.
Dari bumi perkemahan sederhana itu, dua pemimpin—Aurum dan Serena—meninggalkan pesan yang melampaui jabatan. Mereka bukan hanya berbicara tentang pemerintahan atau pembangunan, tapi tentang panggilan hidup, tentang cinta yang bekerja dalam diam, dan kepemimpinan yang lahir dari pelayanan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
