Informasi Terupdate Hari Ini

Sengketa Berakhir Damai, Suku Bolorisi Di Desa Tarawali Siap Membangun Ngadu Baru

0 101

Ngada-Faktahukumntt.com, Sengketa kepemilikan Ngadhu di Desa Tarawali Kecamatan Soa, Ngada berakhir damai. Forum kesatuan masyarakat adat bersama Ketua dan Fungsionaris Suku Bolorisi menggelar sidang adat guna memediasi sengeketa kepemilikan lambang persatuan masyarakat adat Soa itu. Hasilnya, pihak David Do Adhi secara resmi diakui sebagai pemilik sah atas Ngadhu yang disengketakan.

Sengketa kepemilikan Ngadu dalam suku Bolorisi, di desa Tarawali kecamatan Soa, kabupaten Ngada pertama kali mencuat pada tahun 1993 silam. Kala itu, sejumlah mediasi yang pernah dilakukan oleh fungsionaris adat beserta pemerintah Desa terdahulu belum menuai titik terang hingga kini. Meski begitu, dibawah kepemimpinan Yoseph Rema Meo, persoalan panjang itu akhirnya terselesaikan.

Minggu (21/10) kemarin, Yosep Rema Meo, yang bertindak selaku Kepala Suku Bolorisi mencoba memediasi guna mencari kesepakatan bersama antara pihak yang bersengketa. Dia didampingi oleh fungsionaris dan masyarakat adat Suku Bolorisi serta pihak kepolisian dari Sektor Soa, kembali mempertemukan pihak yang bersengketa yakni keluarga dari pihak David Do Adhi dengan pihak dari keluarga Veronika Mau Bate dari anak suku Bolo. Mediasi minggu kemarin merupakan mediasi kelima setelah empat kali upaya mediasi sebelumnya gagal mempertemukan kedua kubu yang bersengketa itu.
Kepada Wartawan FHI, Yosep menyampaikan bahwa mediasi pertemuan itu digelar guna mempercepat pembangunan Ngadu baru, menggantikan Ngadu lama yang kondisinya telah rusak. Menurut Yosep, suku Bolorisi selalu mengalami kendala dalam melakukan pergantian Ngadu. Itu disebabkan karena adanya dualisme pengakuan penguasaan dari pihak yang bersengketa yakni, keluarga dari David Do Adhi dengan keluarga dari Veronika Mau Bate.

Pantauan wartawan FHI, David Do Adi yang didampingi oleh kakaknya, Leonardus Wale Adhi dan Veronika Mau Bate yang didampingi oleh saudara sepupunya, Fransiskus Gaba Rema diberikan kesempatan untuk meberikan keterangan sesuai sejarah terkait hak kuasa atas Ngadu. Keterangan itu juga harus didukung dengan keterangan dari saksi hidup dan saksi pewaris. Bukti pendukung seperti benda-benda pusaka (Bhuza Kawa, Laza Sue) yang digunakan dalam ritual pembangunan Ngadu terdahulu juga turut menjadi penentu atas klaim penguasaan Ngadhu.

Dalam sidang itu, Veronika Mau Bate acap kali memberikan keterangan berbeda sesuai dengan norma kultural masyarakat adat Bolorisi, seperti penggunaan kerbau belang yang dilarang dalam perayaan adat pembangunan Ngadu baru dalam tradisi oleh kelompok suku Risi. Selain itu, Veronika sering pula memberikan keterangan yang berbeda dengan pemangku adat lainya.

Veronika Mau akhirnya mengakui kepemilikan Ngadu kepada David Do Adhi melalui musyawarah internal dengan keluarganya. Keputusan musyawarah keluarga itu merupakan kebijakan dari ketua suku setelah pihak Veronika Mau dianggap sudah tidak lagi memberikan bukti lain sesui dengan keterangan dari saksi hidup serta tidak sesuai dengan norma ritual dalam masyarakat adat suku Bolorisi.

Sesuai agenda adat dalam tradisi suku Bolorisi, hasil keputusan dari sidang adat itu sekaligus sebagai tanda dimulainya pembangunan Ngadu baru untuk menggantikan Ngadu lama yang telah rusak. (patrick)

Comments
Loading...