Tantangan yang dihadapi Indonesia memang tidak ringan. Perubahan iklim telah menyebabkan pola cuaca semakin sulit diprediksi. Musim tanam bergeser, frekuensi bencana hidrometeorologi meningkat, dan produktivitas sejumlah komoditas pangan strategis mengalami tekanan. Kondisi tersebut berpotensi memicu gangguan pasokan yang berujung pada kenaikan harga di pasar.
Karena itu, penguatan sektor pangan memerlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada hilir, tetapi juga menyentuh aspek riset dan inovasi dari hulu. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menilai pengembangan teknologi pertanian menjadi salah satu kunci untuk menjawab tantangan tersebut.
Menurut Arif, komoditas pangan yang masuk kategori *volatile food* sangat rentan terhadap perubahan cuaca dan musim. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BRIN telah mengembangkan berbagai varietas padi unggulan yang mampu berproduksi lebih dari 10 ton per hektare serta memiliki ketahanan terhadap banjir, kekeringan, maupun lahan berkadar garam tinggi.
