“Pelayanan tidak selalu dalam bentuk khotbah atau program sosial. Menyiapkan ruang agar orang lain bisa maju juga adalah bentuk pelayanan,” ungkapnya.
Dalam penjelasannya, Serena menggambarkan kepemimpinan sebagai perjalanan spiritual yang menuntut integritas, kerendahan hati, dan keberanian untuk mengambil keputusan yang berpihak pada rakyat.
Ia menegaskan bahwa jabatan hanyalah sarana, bukan tujuan. Seorang pemimpin sejati, menurutnya, tidak mencari kemuliaan pribadi, melainkan kesejahteraan bersama.
“Kalau kepemimpinan hanya soal posisi, maka akan berakhir ketika masa jabatan selesai. Tapi kalau kepemimpinan lahir dari hati yang melayani, maka pengaruhnya akan bertahan lama, bahkan setelah kita tiada,” ujarnya dengan nada reflektif.
Serena juga menyinggung pentingnya role model bagi generasi muda — figur yang bisa menjadi teladan dalam kejujuran, kerja keras, dan kasih terhadap sesama. Ia mengajak pemuda GMIT untuk menjadi bagian dari generasi yang tidak sekadar menuntut perubahan, tetapi menjadi perubahan itu sendiri.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
