“Pemimpin masa depan tidak lahir di ruang-ruang mewah, tapi di tempat di mana ada kemauan untuk mendengar, belajar, dan melayani. Pemuda GMIT punya potensi besar untuk menjadi pemimpin seperti itu,” tegasnya.
Dalam suasana sore yang hangat, suara Serena terdengar lembut tapi menyentuh hati. Ia bercerita tentang banyaknya anak muda di Kupang yang terlibat dalam kegiatan sosial tanpa pamrih — membersihkan lingkungan, mengajar anak-anak di pelosok, hingga membantu masyarakat kecil.
Bagi Serena, mereka adalah cerminan nyata dari kepemimpinan yang melayani.
“Melayani itu bukan pekerjaan orang besar. Justru dari hal kecil seperti menanam pohon, membantu tetangga, atau menjaga kebersihan, kita belajar arti kepemimpinan sejati,” ucapnya sambil tersenyum.
Ia menutup paparannya dengan kalimat yang menjadi inti seluruh pesan hari itu:
“Jadilah pemimpin yang mengasihi. Karena cinta yang diwujudkan dalam pelayanan akan menumbuhkan kehidupan yang lebih baik bagi semua.”
Ketika matahari mulai condong ke barat, Oematnunu menjadi saksi lahirnya inspirasi baru. Ratusan pemuda GMIT tampak merenung, sebagian tersenyum, sebagian lagi mencatat kata-kata Serena yang penuh makna.
Bagi mereka, pesan itu bukan sekadar pidato — tapi panggilan untuk membangun masa depan dengan hati yang melayani.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
