Think Twice with Google, Ketika Mahasiswa Undana Belajar Menjadi Kreator dan Penjaga Ruang Digital
FHC, Perkembangan kecerdasan buatan sering kali menghadirkan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, teknologi ini membuka peluang luar biasa untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan efisiensi kerja. Namun di sisi lain, AI juga menghadirkan ancaman baru berupa penyebaran informasi palsu, manipulasi digital, dan berbagai bentuk kejahatan siber yang semakin sulit dideteksi.
Dua realitas inilah yang menjadi fokus utama dalam kegiatan “Think Twice with Google” yang digelar di Universitas Nusa Cendana (Undana). Melalui program yang diprakarsai Google Student Ambassador 2026, Arleen Theodora Pah, mahasiswa tidak hanya diajarkan memanfaatkan AI, tetapi juga memahami risiko yang menyertainya.
Tema “Think Twice” atau “berpikir dua kali” menjadi pesan yang sangat relevan di era digital saat ini. Ketika sebuah foto dapat dihasilkan hanya dalam hitungan detik dan video dapat direkayasa tanpa jejak yang mudah dikenali, kemampuan berpikir kritis menjadi benteng pertama bagi masyarakat.
Mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut diajak memahami bagaimana teknologi AI dapat digunakan untuk menghasilkan konten palsu yang terlihat sangat meyakinkan. Mereka juga dibekali keterampilan praktis dalam mengenali pola-pola penipuan digital yang semakin marak terjadi di media sosial maupun platform komunikasi daring.
Peserta kegiatan, William John Ratingu, mengaku mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Menurutnya, pelatihan tersebut tidak hanya memberikan teori, tetapi juga kemampuan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pernyataan tersebut menggambarkan kebutuhan nyata generasi muda saat ini. Ancaman digital tidak lagi hanya berupa virus komputer atau peretasan akun. Kejahatan siber kini hadir dalam bentuk yang lebih halus melalui manipulasi psikologis, penyebaran hoaks, dan pemanfaatan AI untuk menipu korban.
Di sisi lain, program Google AI for Education yang dibawa Arleen juga menunjukkan sisi positif perkembangan teknologi. Mahasiswa diajak melihat AI sebagai alat bantu yang dapat memperluas kemampuan manusia, bukan sebagai ancaman yang harus ditakuti.
Melalui pelatihan pembuatan konten, branding digital, hingga pengembangan aplikasi berbasis no-code, peserta memperoleh pemahaman bahwa teknologi dapat digunakan untuk menciptakan nilai ekonomi baru.
Bagi mahasiswa di Nusa Tenggara Timur, wawasan seperti ini memiliki arti yang sangat penting. Selama bertahun-tahun, banyak anak muda di daerah menghadapi keterbatasan akses terhadap pelatihan teknologi mutakhir. Akibatnya, kesenjangan kompetensi digital antara daerah dan kota besar sering kali menjadi hambatan dalam persaingan dunia kerja.
Program yang dijalankan Arleen menjadi salah satu contoh bagaimana kesenjangan tersebut dapat diperkecil melalui pendekatan edukasi yang inklusif. Dengan memanfaatkan fasilitas kampus dan dukungan program studi, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari perkembangan teknologi terkini.
Lebih jauh, pendekatan no-code yang diperkenalkan dalam pelatihan membuka peluang baru bagi mahasiswa nonteknik. Mereka tidak lagi harus menguasai bahasa pemrograman yang kompleks untuk menciptakan produk digital sederhana.
Perubahan ini berpotensi mengubah cara mahasiswa memandang masa depan karier mereka. AI bukan lagi sesuatu yang jauh dan eksklusif, melainkan alat yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan inovasi.
Pada akhirnya, keberhasilan program Google Student Ambassador di Undana tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang hadir. Nilai terbesarnya terletak pada perubahan cara berpikir mahasiswa terhadap teknologi.
Mereka belajar menjadi kreator, bukan sekadar konsumen. Mereka belajar memanfaatkan AI untuk berkarya sekaligus memahami risiko yang harus diwaspadai. Dan yang terpenting, mereka belajar bahwa masa depan digital yang aman tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kecerdasan manusia dalam menggunakannya.
Di tengah gelombang transformasi digital yang terus bergerak cepat, pesan sederhana “Think Twice” menjadi pengingat penting bahwa kemajuan teknologi harus selalu diimbangi dengan nalar kritis dan tanggung jawab sosial.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
