Ia mengakui bahwa NTT masih menghadapi persoalan struktural berupa rendahnya nilai ekspor produk lokal dan tingginya ketergantungan terhadap produk dari luar daerah. Kondisi tersebut membuat perputaran ekonomi lokal belum optimal.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah daerah mendorong implementasi konsep TAPA OK JU (Tanam, Panen, Olah, Kemas, Jual) yang menitikberatkan pada hilirisasi produk hingga siap dipasarkan.
Selain itu, program One Village One Product (OVOP) terus diperkuat agar setiap desa memiliki produk unggulan yang mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
“NTT memiliki banyak komoditas unggulan. Tantangannya adalah bagaimana produk itu diolah, dikemas dengan baik, dan memiliki akses pasar yang luas,” ujar Ernes.
Di sisi lain, pemerintah juga menerapkan pendekatan pembiayaan kreatif melalui Program Desa Dasacita 100 Juta. Program tersebut memungkinkan pemerintah mengalokasikan anggaran secara langsung untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat melalui pembelian produk lokal.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
