Namun demikian, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai.
Konflik geopolitik yang berkepanjangan, kenaikan harga energi dunia, perlambatan ekonomi global, serta potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah dan arus modal asing.
Dalam situasi seperti itu, fleksibilitas kebijakan menjadi faktor kunci.
Menjaga Keseimbangan di Tengah Ketidakpastian
Keputusan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen memperlihatkan bahwa Bank Indonesia sedang memainkan peran sebagai penjaga keseimbangan.
Di satu sisi, bank sentral harus memastikan nilai tukar rupiah tetap stabil agar gejolak global tidak menjalar menjadi krisis domestik. Di sisi lain, BI juga tidak ingin momentum pemulihan ekonomi terganggu akibat biaya kredit yang semakin mahal.
Karena itu, strategi yang ditempuh bukan sekadar mempertahankan suku bunga, melainkan membangun bauran kebijakan yang saling melengkapi: memperkuat stabilitas rupiah melalui instrumen moneter, memperluas likuiditas perbankan lewat kebijakan makroprudensial, dan mempercepat digitalisasi sistem pembayaran untuk mendorong produktivitas ekonomi.
