Keputusan ini mencerminkan perubahan strategi. Jika sebelumnya instrumen suku bunga menjadi senjata utama menghadapi gejolak eksternal, kini BI memanfaatkan kombinasi kebijakan yang lebih luas, mulai dari intervensi di pasar valuta asing, penguatan pasar uang, peningkatan likuiditas perbankan, hingga pemberian insentif bagi investor asing.

Geopolitik Menjadi Faktor Penentu

Latar belakang keputusan tersebut tidak dapat dilepaskan dari situasi global yang kembali memburuk. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026 mengganggu lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi dunia. Akibatnya, harga minyak kembali meningkat dan tekanan inflasi global kembali menguat.

Dalam situasi tersebut, bank-bank sentral dunia diperkirakan kembali memperketat kebijakan moneternya. Amerika Serikat bahkan diproyeksikan mempercepat kenaikan Fed Funds Rate (FFR) pada triwulan IV 2026. Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkat sehingga mendorong arus modal global kembali mengalir menuju aset-aset berdenominasi dolar AS yang dianggap lebih aman.