Di bidang sistem pembayaran, BI terus memperluas penggunaan QRIS lintas negara, memperkuat BI-FAST, memperluas digitalisasi pembayaran, serta mendukung inovasi ekonomi digital melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI). Seluruh kebijakan tersebut diarahkan agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas sistem keuangan.
Menunggu Efektivitas Kebijakan
Keputusan mempertahankan BI-Rate pada 5,75 persen menunjukkan bahwa Bank Indonesia memilih mengoptimalkan instrumen kebijakan lain dibanding kembali menaikkan suku bunga.
Pilihan tersebut memang mengandung risiko apabila tekanan eksternal semakin besar. Namun di sisi lain, strategi itu memberi ruang bagi sektor riil untuk tetap bertumbuh di tengah biaya pinjaman yang tidak semakin mahal.
Kini, efektivitas kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan situasi global. Jika konflik geopolitik mereda dan arus modal asing tetap terjaga, strategi Bank Indonesia berpeluang menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah, pengendalian inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, apabila tekanan eksternal meningkat lebih tajam, ruang kebijakan moneter Indonesia akan kembali diuji.
