Informasi Terupdate Hari Ini

Sampah Masyarakat Kota Samua

Provinsi Nasta, Kota Samua, Mansion Keluarga Sang.

0 1.849

Faktahukumntt.com – BACA SAYA

Nenek Sang merayakan ulang tahun ke-80 tahun, setiap ruang tamu di mansion keluarga Sang penuh diduduki kerabat dan teman, suasana ramai dan meriah, mereka pun tidak lupa mempersembahkan hadiah kebanggaan masing-masing.

Keluarga Sang termasuk keluarga menengah atas di Kota Sang. Meskipun tidak sebanding dengan Keluarga Xiao, Keluarga Gu dan Keluarga Lan, tetapi juga memiliki dasar yang kuat dan nama yang harum di Kota Samua.

Setelah semua orang memberikan hadiah, barulah Chandra Ling datang membawakan sebuah lukisan.

Begitu memijakkan kaki ke dalam, Chandra pun berhasil memikat semua mata, bukan karena kedudukannya yang tinggi, ataupun keahliannya yang tak tertandingi. Sebaliknya, karena kedudukan Chandra Ling sebagai menantu yang tinggal di rumah Keluarga Sang terasa sangat canggung, atau lebih terkenal di Kota Samua sebagai sampah masyarakat.

Dua setengah tahun yang lalu, tanpa memerdulikan penolakan Nenek Sang, Kakek Sang membawa Chandra yang lemah dan penyakitan kembali ke mansion Keluarga Sang. Di saat itu juga, dia mengumumkan untuk menjadikan Chandra sebagai menantu Keluarga Sang, meminta cucu perempuannya, Siska Sang menyelesaikan pernikahan dengan Chandra Ling.

Bahkan Ibu Siska pun memutus hubungan dengan Keluarga Sang karenanya, tetapi sama sekali tidak mengubah keadaan.

Keputusan Kakek Sang sungguh menggemparkan dunia, pernikahan sederhana dan tidak berkecukupan itu pun menggoncang seisi Kota Samua, juga menjadikan Keluarga Sang sebagai bahan tertawaaan di Kota Samua.

Siska yang terkenal dengan kecantikannya di Kota Samua pun sangat tersakiti karena harus menikah dengan seseorang yang penyakitan dan tidak berguna, serta mendapat hujatan dari orang-orang.

Siska tahu, karena Kakek sudah memutuskan, diapun hanya bisa menuruti perintah, ini adalah kesedihan terbesar perempuan keluarga bangsawan itu.

Demi menyembuhkan luka dalam hati, dan mengembalikan harga diri di depan orang-orang, Siska pun bersikeras dan fokus pada pekerjaan.

Kalah di dunia cinta, tidak boleh kalah di dunia kerja.

Dua setengah tahun berlalu, Siska berhasil naik jabatan dari Wakil Manajer Utama di salah satu perusahaan kecil Keluarga Sang menjadi Manajer Utama Perusahaan Besar Sang, membuat berbagai kalangan masyarakat Kota Samua sangat terkejut.

Dua tahun yang lalu, sebelum meninggal, Kakek Sang meminta Siska bersumpah untuk tidak meninggalkan Chandra apapun keadaannya. Dan soal latar belakang Chandra, bagaimanapun Siska menanyakannya, Kakek tetap tidak membocorkan satu kata pun, dengan begitulah menjadi teka-teki terbesar Keluarga Sang.

Meskipun tidak puas dengan pernikahan sendiri, Siska sama sekali tidak melanggar sumpahnya pada Kakek, juga tidak bercerai dengan Chandra karena desakan Nenek Sang dan anggota keluarga lainnya.

Saat Kakek Sang masih hidup, meski tidak menghargai Chandra sedikitpun, anggota Keluarga Sang pun tidak berani bertindak keterlaluan, hanya sebatas menggosipkannya di belakang. Setelah Kakek Sang meninggal, Nenek Sang pun tidak lagi sungkan dengan menantu yang telah merusak masa depan cucu perempuannya itu.

Para cucu Keluarga Sang pun bersikap jauh lebih dingin pada Chandra yang telah merusak nama baik Keluarga Sang, siang malam menghinda dan merendahkannya, ingin sekali memberi pelajaran dan mengusirnya keluar dari rumah.

Pernikahan dua tahun yang lalu dilakukan dengan terlalu buru-buru, para kerabat dan saudara Keluarga Sang di luar kota sama sekali tidak sempat menghadirinya. Maka dari itu, inilah pertama kalinya mereka menjumpai Chandra sang sampah masyarakat yang terkenal itu.

“Ternyata ini yang namanya Chandra, tidak buruk juga parasnya, kok bisa bersedia menjadi menantu Keluarga Sang?”

“Hanya paras saja tidak ada gunanya. Lihatlah, badannya lemah, penyakitan, sama sekali bukan calon-calon pebisnis kaya, hanya modal tampang saja!”

“Sayang sekali dengan kulit dan wajah tampan itu, huh….”

Orang-orang tidak berhenti berkomentar tentangnya.

Setiap kali di situasi itu, Siska selalu berpura-pura seolah tidak mendengarnya, dalam hati menghela nafas dengan berat.

Melihat Chandra disana, Siska segera berdiri dan menggandengnya dengan senyuman kecil di wajah, terlihat akrab sekali dengan suaminya.

Di depan orang-orang, Siska selalu menampakkan hubungan suami-istri yang akur dengan Chandra, sangat menjaga kehormatannya.

“Bagaimana persiapan hadiahnya?”

Beberapa hari terakhir Siska sibuk dengan urusan kantor hingga tidak sempat membeli hadiah, akhirnya terpaksa meminta Chandra yang mengurusnya.

Siska juga berencana memanfaatkan hal ini demi menonjolkan Chandra di depan Keluarga Sang. Bagaimanapun juga Chandra adalah suami sahnya, dia tidak ingin orang-orang selalu menyebutnya sebagai sampah masyarakat yang tidak memiliki kemampuan apapun.

Chandra menggoyangkan lukisan kaligrafi yang dipegangnya, lalu berkata pada Siska: “Tenang saja!”

“Chandra, jadi ini hadiah yang kamu siapkan untuk Nenek? Bungkusan saja tidak ada, jangan bilang beli di pinggir jalan?” Julius Sang melihat lukisan di tangan Chandra dengan penuh remeh.

Melihat Chandra tidak memerdulikannya, Julius pun merasa kesal, segera mengarahkan kalimat pada Siska: “Siska, hari in Nenek sudah berusia 80 tahun, kamu malah meminta sampah ini untuk menyiapkan hadiah? Ini sungguh sembarangan!”

Julius adalah cucu terbesar di Keluarga Sang, dianggap sebagai Tuan Keluarga Sang sekaligus penerus Perusahaan Besar Sang, selalu menentang Siska yang mencapai kejayaan selama dua tahun terakhir.

“Lihatlah karang merah in, aku datangkan langsung dari luar negeri, tahukah berapa harganya? 3.6 Miliar!” Sebuah hadiah berupa karang merah begitu menonjol di meja depan Nenek Sang, Julius berkata dengan sombong.

“Bagus sekali!” Di situasi seperti itu, Chandra selalu mengikuti apa yang Siska ajarkan, yakni tidak membuang energi untuk berkata terlalu banyak.

Melihat Chandra yang tidak berani melawan saat dimarahi sampah oleh Julius di depan umum, suasana ruang tamu penuh dengan suara tawa penuh hina.

Chandra tidak perduli dengan hal itu, karena dalam hati dia mengerti, dibandingkan dengan Siska, perlakuan buruk yang diterimanya dalam dua tahun ini bisa saja diabaikan.

Dirinya memang tidak memiliki apa-apa, malah menjadi menantu Keluarga Sang, serta mendapatkan seorang perempuan yang begitu cantik, meskipun tidak pernah disentuh sedikitpun olehnya.

Di sisi lain, Siska adalah cucu kebanggaan Keluarga Sang, bidadari bagi ribuan laki-laki di Kota Samua, tetapi malah menikah dengan seorang penyakitan dan sampah, nama baiknya pun jatuh begitu saja.

Dalam hati, Chandra merasa sangat bersalah pada Siska.

Chandra sama sekali tidak perduli dengan orang-orang yang meremehkannya, ataupun melihatnya dengan heran, malah tersenyum dan menjawab Siska: “Lukisan ini baru saja selesai dibuat oleh Kakek Uban, belum sempat dibungkus.”

Mendengar hal itu, Siska merasa senang, karena Neneknya paling menyukai lukisan terkenal, terutama lukisan kaligrafi dari Kakek Uban yang terkenal di zaman itu.

Kakek Uban bernama asli Frans Bai, seseorang yang berbakat tinggi di dunia lukisan Negeri Hua. Sejak selesai menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Lukisan Negeri Hua, dia selalu menetap di Danau Xizi Kota Samua, jarang sekali melukis untuk orang-orang lagi. Bahkan tahun lalu, Walikota Kota Samua yang datang memohon lukisan padanya pun tidak menjumpainya, alhasil pulang dengan tangan kosong.

Siska Sang pun berkata dengan keras pada Nenek: “Nek, Chandra khusus memohonkan lukisan terbaru Kakek Uban untuk merayakan ulang tahun Nenek.”

Chandra membuka lukisan yang sedang dipegangnya, sebuah pohon beringin yang rindang dan seekor bangau mahkota merah terpampang di depan semua orang, terlihat sungguh nyawa, dengan tulisan : Panjang Umur, Sehat Selalu. Jelas sekali itu adalah gaya tulisan Frans Bai.

Nenek Sang sontak heboh, berjalan dua langkah menerima lukisan itu, sambil menatapnya dengan sangat senang: “Siska, kamu hebat sekali!”

Nenek Sang sama sekali tidak memerdulikan kehadian Chandra disana, bahkan tidak melihatnya sekalipun.

Semua orang terkejut, karyawa Kakek Uban bernilai tak terhingga, sekalipun memiliki banyak uang belum tentu bisa membelinya. Tak disangka Chandra malah berhasil mendapatkannya, orang ini sepertinya tidak seburuk yang dikatakan!

Di depan Siska, hadiah yang dibawakan Julius menjadi sorotan semua mata, mendapat pujian Nenek Sang. Tetapi sungguh tidak menyangka sensasi itu malah dirampas oleh Chandra, dalam hati merasa panik, langsung berkata dengan dingin: “Chandra, sepertinya kamu terlalu berlebihan deh! Tahun lalu saja Walikota Kota Samua tidak berhasil menjumpai Kakek Uban di rumahnya, tetapi kamu malah mengakui mendapat karya terbarunya, mau bohongi siapa? Aku rasa lukisan ini pasti palsu!”

Julius sama sekali tidak percaya sampah seperti Chandra memiliki kedudukan lebih tinggi dari Walikota, hingga berhasil memohon lukisan Kakek Uban.

Semua tamu merasa perkataan Julius cukup masuk akal, pandangan sinis dan remeh pun kembali ditujukan pada Chandra.

“Seorang laki-laki yang hanya modal tampang dan tidak berguna sepertinya, masih berani mengaku kenal dengan Kakek Uban, lucu sekali!”

“Benar tuh, aku rasa untuk membawakan sepatu Kakek Uban saja dia tidak pantas!” Para saudara sepupu Siska tidak kuat menahan tawa lagi.

“Tidak memiliki uang beberapa Miliar sama sekali tidak mungkin membeli lukisan kaligrafi Kakek Uban, orang miskin sepertimu punya apa.”

Suara ruang utama mulai ricuh, penuh suara yang menusuk telinga.

Siska segera berkata: “Nek, aku yakin Chandra tidak akan berbohong!’

Chandra berkata dengan nada datar: “Nek, Anda selalu mendalami bidang lukisan, seharusnya bisa mengenali ciri khas Kakek Uban. Cobalah melihatnya dengan teliti, lukisan ini memang…..”

Julius tiba-tiba memotongnya dengan tidak sabar: “Chandra, kamu jangan berbohong lagi. Bukankah ciri-ciri lukisan tinggal ditiru? Jika lukisan ini memang asli, aku akan menelan karang merah itu!”

Chandra masih berencana menjelaskan, tetapi senyuman pada wajah Nenek Sang malah menjadi kaku, lukisan itu dilempar kembali ke wajah Chandra, lalu melambaikan tangan dengan penuh rasa benci: “Jangan membuat malu disini, keluar!”

Semua orang paham, sikap Nenek Sang menandakan ketidakpercayaannya pada Chandra.

Diantara Chandra dan Julius, tentu saja Nenek Sang akan percaya dengan cucu kesayangannya. Bagaimanapun penjelasan Chandra, dia pun tidak akan percaya bahwa lukisan itu memang asli.

Sekalipun lukisan itu asli, demi menjaga nama baik cucunya, Nenek Sang pun akan mengatakannya palsu.

Di Keluarga Sang, dirinya hanya orang luar, yang tidak ada bedanya dengan sebuah sampah, kemampuan dan sifat saja bermasalah, mereka tidak mungkin akan percaya!

Chandra tentu tidak mungkin membawa lukisan palsu untuk berbohong. Melihat orang-orang tidak percaya, diapun malas menjelaskan lagi, hanya tersenyum santai, menggulung kembali lukisannya, dan berjalan keluar di tengah tatapan hina dari orang-orang.

Tidak ada yang perduli dengan perasaan Chandra, bayangannya terlihat sangat menyedihkan. Siska hanya menghela nafas dengan berat, menatapnya dengan hati yang terluka.

Comments
Loading...