Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 masih mampu tumbuh dalam kisaran 4,9–5,7 persen. Optimisme tersebut didukung konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, belanja pemerintah melalui berbagai program prioritas, investasi pembangunan, serta pertumbuhan kredit yang pada Juni mencapai 12,67 persen (yoy).

Artinya, apabila BI kembali menaikkan suku bunga, biaya pinjaman bagi dunia usaha berpotensi meningkat dan dapat mengurangi dorongan investasi maupun konsumsi.

Karena itu, kebijakan makroprudensial tetap dibuat longgar. BI bahkan memperbesar insentif likuiditas makroprudensial (KLM), memperkuat pembiayaan sektor prioritas, serta menjaga kecukupan likuiditas perbankan agar fungsi intermediasi tetap berjalan optimal.

Bauran Kebijakan Menjadi Kata Kunci

RDG Juli 2026 memperlihatkan perubahan pendekatan Bank Indonesia dalam menghadapi krisis global.

Jika sebelumnya stabilitas ekonomi lebih banyak ditopang melalui perubahan suku bunga, kini BI mengombinasikan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran secara simultan.